INFINITE LOVE (Chapter 10a)

Infinite Love 10.1

Title                 : Infinite Love (Chapter 10a)

Author             : Bee678

Rating             : Teenager

Length             : Chapter

Genre              : Romance

Cast                 : Nam Woohyun, Park Jiyeon

Other cast        :Im Jaebum, Jung Soo Jung (Krystal), INFINITE Member’s

Disclaimer       : 100% original buatan author kecuali castnya..Say No to tukang fotokopi (Plagiat!!)

*NB: Seperti biasa aku akan meminta maaf para reader sekalian soalnya kelamaan..hahahah..biasa pengen perfect ceritanya..tapi tetep aja jadinya seperti ini..ini aku jadiin 2 part endingnya..soalnya kepanjangan..hahahah..tapi tenang! part terakhirnya tidak akan lama..karena sudah ada tinggal di cek terakhir kali dan di post..hohohoho..okeehh cukup sekian..silakan membaca semuanya..GBU all ^^

“Park Jiyeon noe jeongmal babo!” umpat Woohyun untuk kesekian kalinya selama ia berada di dalam taxi menuju kediaman mantan yeoja chingunya itu. “Ajushi, bisa tolong dipercepat sedikit? Aku sedang terburu-buru.” pinta Woohyun sambil bergeliat tak sabar di kursi penumpang.

“Ini sudah secepat yang bisa saya lakukan, anak muda! Kau lihat sendiri jalanan di depan sana. Semua macet karena konser tadi!” keluh sang sopir taxi sambil menatap konsumennya itu dari balik kaca spion. Woohyun bergidik canggung mendegarnya. “Kalau dilihat-lihat lagi, wajahmu mirip dengan salah satu personel idol group yang menggelar konser tadi. Aku seperti baru melihat wajahmu itu di poster raksasa yang dipasang di depan gedung pertunjukan tadi.” sambung namja paruh baya bertopi itu.

“Ha..ha..ha..Ajushi bisa saja. Mana mungkin aku ini member..hmm..apa nama groupnya?” tukas Woohyun berbohong disusul suara tawa yang terdengar dipaksakan. Sopir taxi itu hanya menggerakan kepalanya ke kanan ke kiri, tidak yakin.

Woohyun mengalihkan pandangannya ke luar kaca jendela, menghindari lirikan penuh selidik dari sang sopir taxi. Detik berikutnnya namja ini kembali mengumpatkan hal yang sama dengan sebelumnya. Sesekali ia juga berdecak tak sabar sambil mengoyang-goyangkan sebelah kakinya.

Otaknya kembali memutar kenangan pahit nan menyakitkan saat Jiyeon mengakhiri hubungan mereka dengan dinginnya hingga kejadian beberapa menit yang lalu, dimana ia baru saja mengetahui semua alasan yeoja cantik itu memutuskan dirinya.

Segala macam emosi bergejolak di hati dan pikirannya sekarang. Secuil perasaan lega karena ia menyadari bahwa yeoja yang dicintainya ternyata mencintainya juga, terselip di dadanya. Namun di sisi lain, rasa kesal dan sedih pun mencuat di sana karena alasan yang sama. Tidak pernah terpikir oleh Woohyun, kalau sebenarnya selama ini Jiyeon jauh lebih menderita daripada dirinya.

“Ajushi, kira-kira berapa lama lagi kita akan sampai?” tanya Woohyun akhirnya sambil memajukan posisi duduknya, mendekati sang sopir.

“Entahlah! Melihat kondisi seperti ini, mungkin kita bisa sampai sekitar 1  jam lagi.”  jawab sopir taxi itu sambil menjulurkan tangannya, menunujuk deretan panjang mobil-mobil di depannya yang tak kunjung bergerak sejak 20 menit yang lalu.

“Mwo?!!” pekik Woohyun. Padahal seharusnya 10 atau 15 menit lagi ia sudah bisa sampai di rumah Jiyeon.  “Haiiiissshh! Ajushi, aku berhenti di sini saja!” tukas Woohyun akhirnya sambil menyodorkan beberapa lembar uang won pada sang sopir taxi. “Kembaliannya untukmu saja. Kamsahamnida!” sambung Woohyun lalu keluar dari mobil yang ditumpanginnya itu.

Seperti adegan-adegan dramatis dalam drama di mana sang aktor berlari di celah-celah antrian panjang kendaraan yang berhenti, sedang dilakukan juga oleh Woohyun. Diiringi bunyi klason mobil yang saling bersahutan, namja ini berlari ke ujung jalan untuk berbelok ke salah satu jalan yang lebih kecil di sisi kanannya.

Woohyun menghentikan langkahnya saat tiba di kawasan perumahan tempat Jiyeon tinggal. Suasana malam yang panas membuat hampir sekujur tubuh namja ini basah. Ia membungkukkan badannya sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Beruntung pada saat itu sudah jarang sekali orang yang melewati jalan kecil yang dilaluinya ini.

“Neo ttaemune, Park Jiyeon! Aku jadi  selelah ini karena dirimu! Dasar yeoja bodoh!” gumam Woohyun sambil mengibas-ngibaskan kaos V-neck putih yang dikenakannya. Kata lelah yang dilontarkannya tidak hanya merujuk pada fisiknya. Selama 3 bulan terakhir ini, hati dan pikiran Woohyun terasa bergitu lelah karena merasa dicampakan oleh yeoja yang sangat disayanginya.

Setelah merasa nafasnya lebih stabil, Woohyun kembali menggerakan kakinya, berlari kecil menuju rumah Jiyeon yang tinggal beberapa meter lagi.

Woohyun memperlambat langkahnya saat tiba di depan rumah minimalis yang sering ia kunjungi sebelumnya. Suasana rumah itu sangat sepi. Namja ini mendongakkan kepalanya untuk melihat kamar Jiyeon di lantai 2. Kamar itu gelap. Woohyun langsung melirik jam tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan hampir jam 12 malam.

Apa dia sudah tidur, batin Woohyun dan detik berikutnya ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dari sana. Tanpa banyak pikir lagi, namja ini langsung menekan angka 2 pada layar ponselnya-panggilan cepat untuk Jiyeon. Tapi kemudian jemari Woohyun berhenti tepat sebelum menekan simbol hijau pada smart phone nya. Baru saja, samar-samar dia mendengar suara seorang yeoja yang menyenandungkan lagu yang sangat tidak asing untuknya.

Naekkeo haja, naega neol saranghae, ou~? Naega neol geokjeonghae, ou~? Naega neol kkeut kkaji, chaekim jil ge..hmmm..hmmm…

Bagai terkena mantera, Woohyun membeku di tempatnya berdiri. Matanya menatap lurus yeoja bertopi yang sedang berjalan ke arahnya. Yeoja itu membawa plakat nama yang biasa dibawa para Inspirit saat sang idola tampil. Wajah cantiknya mengurai sebuah senyum tipis. Woohyun dapat melihatnya saat yeoja itu melepaskan topi putih di kepalanya.

Ingin rasanya saat ini juga Woohyun berlari dan menarik yeoja di depanya itu ke dalam pelukannya. Namja ini begitu merindukannya. Rindu pada semua yang ada dalam diri seorang Park Jiyeon. Namun niatnya itu langsung terkubur saat melihat Jiyeon menempelkan ponsel di telinganya.

“Aku sudah pulang, Ajushi! Kau tidak perlu menghubungiku terus! Kau lebih cerewet daripada Eommaku.” ujar Jiyeon sambil terkekeh sukses membuat kening Woohyun berkerut. “Araso! Araso! Maaf karena sudah membuatmu cemas dan terima kasih atas perhatianmu, Jaebum-ah!” sambung Jiyeon yang langsung menjawab pertanyaan di otak Woohyun. Tanpa sadar namja ini mengepal kuat-kuat sebelah tangannya yang bebas.

“Untuk sesaat aku bahkan lupa dengan keberadaan teman masa kecilnya itu!” gumam Woohyun tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok yeoja berambut cokelat keemasan. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya sebelum akhirnya memutuskan untuk menghampiri yeoja tersebut.

“Ne. Aku tutup, ya! Annyeong!” tukas Jiyeon lalu mematikan telepon dari tetangganya itu. Senyumnya melebar mengingat percakapan singkat di telepon tadi.

Jiyeon menghela nafas lalu memasukan ponselnya ke dalam tas selempang yang dibawanya kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Yeoja ini melanjutkan senandungannya yang sempat berhenti karena telepon masuk dari Jaebum tadi.

“Dari mana saja kau?” tanya Woohyun sukses menghentikan senandung Jiyeon.

“OMO! Gapjagi!” pekik Jiyeon. Secara naluriah yeoja ini memegangi dadanya sendiri. Belum sempat ia mengendalikan keterkejutannya, mata Jiyeon semakin membulat saat mengetahui siapa pemilik suara tadi. Bibir mungil yeoja ini membentuk huruf ‘O’. Panggilan ‘oppa’ yang biasa ia pakai untuk memanggil namja yang sekarang berdiri di depannya itu, tidak bisa ia lontarkan.

“Kau darimana dulu?” tanya Woohyun lagi. Jiyeon bergeming. Matanya masih tak berkedip melihat namja yang keningnya dinodai oleh butiran-butiran kecil keringat. “Bukankah konser sudah berakhir sekitar dua jam lalu? Kenapa kau baru pulang sekarang?” ujar Woohyun datar.

“Hm?” Jiyeon yang sedari tadi tidak benar-benar menyimak pertanyaan Woohyun, tanpa sadar memasang ekspresi bodohnya. Woohyun melirik plakat di tangan Jiyeon sekilas sebelum kembali menatap yeoja di hadapannya itu. Detik berikutnya Jiyeon yang akhirnya sadar sepenuhnya, langsung menyembunyikan papan nama yang dibawanya ke balik tubuhnya. Meskipun sebenarnya hal itu sia-sia.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jiyeon akhirnya tanpa berniat menjawab pertanyaan Woohyun. Suaranya diupayakan terdengar ketus. Kali ini giliran Woohyun yang bergeming. Namja ini hanya menatap lekat-lekat kedua bola mata gelap Jiyeon.

Untuk beberapa saat kedua mata mereka beradu dan hanya keheningan yang tercipta. Hati Woohyun kembali terasa perih, bahkan berkali-kali lipat lebih sakit saat melihat mata indah Jiyeon berusaha menatapnya dengan ekspresi tidak suka.

“Babo!” kata Woohyun pelan pada akhirnya tanpa melepaskan pandangannya. Alis Jiyeon berkerut mendengarnya. “Babo!” ulang Woohyun kali ini lebih jelas.

“Mwo?” tanya Jiyeon bingung.

“Babo! Noe jeongmal babo, Park Jiyeon!”

“Kau ini sedang bicara apa?” tanya Jiyeon lagi sambil diam-diam mengendus aroma tubuh namja di hadapannya. Ia takut kejadian mabuk waktu itu terulang lagi sekarang. Namun tidak ada bau alkhohol di sana. Keruatan di kening Jiyeon bertambah dalam.

“Aku tidak tahu kalau ternyata kau seorang yeoja bodoh! Kau…” Woohyun menggantung kalimatnya. Ia tidak tahu lagi kata apa yang tepat untuk gadis di hadapannya itu. “Jeongmal babo!” ujar Woohyun lirih.

“Yaa! Berhentilah menyebutku bodoh, Nam Woohyun-shi! Kau tidak…..”

“Kalau bukan bodoh apalagi?!!” bentak Woohyun sukses membuat mata Jiyeon terbelalak. Hening beberapa saat, hanya terdengar deru nafas namja ini yang menahan rasa marah dan sakit hatinya. “Aku sudah tahu semuanya.” tukas Woohyun pelan sambil memegang kedua bahu Jiyeon.

“Apa maksudmu?” tanya Jiyeon ragu. Wajahnya yang seputih susu mendadak makin pucat.

“Perjanjian antara kau dan yeoja licik itu, aku sudah mengetahuinya.” ungkap Woohyun sambil memperkuat cengkraman tangannya di pundak Jiyeon. Detik berikutnya plakat bertulisakan ‘Namstar’ di tangan Jiyeon jatuh ke aspal keras di bawahnya. Kakinya mendadak lemas. Andai saja Woohyun tidak meletakkan tangannya di tubuhnya, yeoja ini pasti sudah jatuh tersungkur.

“Oppa, bagaimana bisa…” tanya Jiyeon sambil menatap cemas kedua bola mata Woohyun.

“Yeoja jahat itu tidak sengaja membongkar rahasianya sendiri.” jawab Woohyun sambil melepaskan cengkramannya. Matanya berkilat karena amarah.

“Lalu bagaimana denganmu nanti? Soojung-shi pasti akan menyulitkan kalian. Bagaimana dengan karir dan mimpimu itu? Bagaimana….”

“Berhentilah mengkhawatirkan semua itu seorang diri, Park Jiyeon!” seru Woohyun setengah berteriak membuat Jiyeon kembali tersentak. Sekali lagi kedua orang ini hanya saling bertukar pandang. “Harusnya aku yang bertanya. Bagaimana mungkin kau mengorbankan kebahagiaanmu sendiri demi mimpiku? Dan lebih buruknya lagi, saat semua itu kau lakukan untukku, aku malah meragukan perasaanmu dan menuduhmu yang macam-macam.” ujar Woohyun sambil menatap nanar yeoja di depannya itu.

Suaranya terdengar bergetar, wajah tampannya memerah dan matanya mulai berkaca-kaca. Jiyeon hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan namja yang sampai saat ini masih sangat dicintainya. Woohyun terisak lalu menghapus setetes air mata yang baru saja jatuh kepipinya itu dengan punggung tangannya kemudian tersenyum sinis.

“Setelah dipikir-pikir lagi, memang bukan kau yang bodoh, tapi aku. Aku terlalu bodoh untuk melindungi yeoja yang kucintai. Aku terlalu lamban untuk menyadari semua kecemasanmu. Aku juga terlalu lemah untuk menjadi kekasihmu hingga aku bisa-bisanya membuatmu harus menanggung semuanya seorang diri. Aku bukanlah namja yang pantas…”

“Aniyo, Oppa! Jangan berbicara seperti itu lagi! Semua yang kau ucapkan itu salah. Kau namja chingu yang paling hebat yang kumiliki.” Ssela JIyeon sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Lalu mengapa kau tidak menceritakan semuanya padaku?”

“Aku…”

“Kau tidak percaya padaku bukan?”

“Bukan begitu!” ujar Jiyeon cepat sambil memegang tangan kiri Woohyun. “Oppa, aku sangat mencintaimu. Aku tahu apa yang bisa membuatmu bahagia. Impianmu itu, mimpimu yang sudah kau pupuk sejak lama, aku tidak mau menghancurkannya. Aku tidak mau melihatmu kecewa. Saat itu aku berpikir, meninggalkanmu dan mengikuti permintaan Soojung-shi adalah jalan yang terbaik.”

“Untuk siapa? Jalan terbaik untuk siapa? Yaa, Park Jiyeon, apa kau memikirkan perasaanku saat kau memutuskannya? Kebahagiannku? Kau salah! Aku puas dengan apa yang kulakukan sekarang. Tapi aku akan sangat bahagia bila berada di samping orang yang kucintai.” tukas Woohyun menggebu-gebu sambil menghempaskan tangan Jiyeon.

“Oppa, jangan egois….”

“Kau yang egois!” sela Woohyun setengah berteriak. Seketika itu juga air mata yang sedari tadi sudah tertampung dipelupuk mata Jiyeon mengalir. “Bukankah sudah pernah kukatakan, aku sangat berharap kau menceritakan semua masalahmu padaku. Kita bisa membicarakannya bersama-sama, mencari jalan keluarnya bersama-sama. Tapi dengan seperti ini, kau membuatku menjadi namja chingu yang tidak berguna. Kau tahu, rasanya ini lebih sakit daripada saat kau memutuskan hubungan kita.” ujar Woohyun pelan. Ia menunduk sambil memukul-mukul dadanya sendiri. Detik berikutnya Jiyeon sudah memeluk namja rapuh di hadapannya itu sambil terisak.

“Mianhe, Oppa! Jeongmal mianhe. Aku tidak pernah berpikir keputusanku ini membuatmu tersiksa. Saat itu aku hanya berpikir bahwa bukan hanya kau dan aku di dalam masalah ini, masih ada keenam orang lainnya yang kita libatkan. Aku tidak mau mereka juga menjadi korban dari semua ini. Kupikir, biar saja aku yang mengalah. Biar aku saja yang mundur dari keadaan ini. Aku terus meyakinkan diriku bahwa kau akan baik-baik saja tanpa aku. Aku…”

Penjelasan Jiyeon yang diselingi dengan isak tangisnya itu menggantung begitu saja saat tiba-tiba bibir lembut Woohyun menyentuh bibir mungilnya. Jiyeon tidak menolak. Mata basah kedua orang itu terpejam. Rasa sakit hati, ketakutan, amarah, rindu, mereka salurkan lewat ciuman manis di bawah sorot lampu jalanan itu. Keduanya bisa merasakan bagaimana besarnya perasaan mereka satu terhadap yang lain.

Setelah beberapa saat, Woohyun melepaskan ciumannya dengan perlahan sambil membuka matanya. Dilihatnya yeoja cantik itu juga sudah tidak memejamkan matanya. Mata mereka beradu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hanya ada senyuman samar yang nampak di wajah Jiyeon yang sudah basah. Detik berikutnya Woohyun menarik yeoja itu ke dalam pelukannya.

“Jadi, apa yang sekarang akan kau lakukan, Oppa?” tanya Jiyeon. Kali ini keduanya sudah duduk berdampingan di depan pagar rumah Keluarga Park. Woohyun menoleh ke arah yeoja itu lalu mengangkat kedua bahunya.

“Entahlah, aku belum memikirkannya. Tapi yang pasti aku kan membicarakannya dulu dengan member yang lain.” jawab Woohyun sambil kembali menatap undakan batu yang didudukinya. Jiyeon mengangguk-anggukan kepalanya.

“Huaaa!” seru Jiyeon sambil meregangkan kedua tangannya ke atas kepala. “Sekarang bebanku sudah berkurang banyak. Aku tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi menjadi Inspirit untuk menyemangatimu dan yang lainnya.”

“Ne. 0609?” Woohyun terkekeh sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. “Bahkan itupun bisa terpikir olehmu. Sebenarnya otakmu ini bisa menyimpan berapa banyak hal aneh lagi, sih?” tukas Woohyun sambil mendorong pelan kepala Jiyeon dengan telunjuknya. Jiyeon hanya bisa mendengus sambil mengerucutkan bibirnya. “Mulai sekarang kau bisa menyemangatiku dengan status yeoja chinguku.” sambung Woohyun sambil menyentuh bibir Jiyeon dengan telunjuknya.

Jiyeon bergeming mendengar kalimat terakhir Woohyun. Tidak pernah terlintas di benaknya kalau dirinya bisa menjadi kekasih seorang Nam Woohyun lagi. Yeoja ini menatap dalam mata namja disampingnya. Terpancar ketulusan dari mata jernih Woohyun dan senyumannya.

“Oppa, itu..aku..yeoja chingumu..aku..aku tidak berpikir sampai ke sana.” ujar Jiyeon terbata-bata sukses membuat senyuman di wajah Woohyun memudar.

“Wae? Kenapa kau bicara seperti itu? Bukankah masalah Soojung akan kita bicarakan lagi nanti? Kalau begitu, bukankah artinya kau akan kembali menjadi kekasihku?” tanya Woohyun dengan kening berkerut. Jiyeon masih bergeming.

Tiba-tiba saja raut wajah Woohyun berubah. Ia teringat akan sesuatu. Namja ini mengingat percakapan sederhana Jiyeon dengan seseorang di telepon. Seseorang yang merupakan teman masa kecil yeoja ini, seseorang yang juga memendam perasaan yang sama dengannya terhadap Jiyeon. Im Jaebum. Nama itu langsung terlintas di benak Woohyun.

“Apa karena tetangamu itu?” tanya Woohyun ragu. Dia takut mendengar jawaban yang akan didapatnya.

“Eh?” tanya Jiyeon bingung.

“Apa karena sekarang di hatimu sudah ada namja lain? Teman masa kecilmu itu?” tanya Woohyun lagi tanpa bisa menyembunyikan rasa cemas dan kecewa di wajahnya. Jiyeon langsung menggelengkan kepalanya.

“Tidak! Tentu saja tidak! Aku masih mencintaimu, Oppa! Kalau tidak, bagaimana mungkin aku mau melakukan hal tadi.” jawab Jiyeon meyakinkan.

Ne, benar juga. Jiyeon bahkan membalas ciumanku tadi. Aku bisa merasakan ketulusannya saat itu, pikir Woohyun sambil tetap menatap mata yeoja di sampingnya. Secuil perasaan lega timbul di dadanya. Setidaknya Woohyun tahu, kalau di hati yeoja cantik ini masih ada tempat untuknya.

“Lalu kenapa?” tanya Woohyun heran. Jiyeon tidak langsung menjawab. Ia menghela nafas lalu menundukkan kepalanya.

“Oppa, memang aku masih sangat menyayangimu. Tapi sejujurnya, kejadian ini membuatku takut. Aku tidak tahu masih berapa banyak Soojung lagi yang harus kuhadapi. Oppa, aku tidak yakin dan aku tidak mau membuatmu terluka lagi.” tukasnya pelan tanpa merubah posisinya.

Woohyun langsung beranjak dari duduknya dan berjongkok di hadapan Jiyeon setelah mendengar alasan yeoja itu. Ia menggenggam lembut kedua tangan Jiyeon lalu mengecupnya pelan membuat yeoja ini mau tidak mau harus menatapnya.

“Kau tenanglah! Aku berjanji, kejadian ini tidak akan pernah terulang lagi, Jiyeon-ah!” Jiyeon sedikit terperanjat mendengar panggilan itu.

Panggilan yang sudah lama tidak didengarnya. Panggilan yang selalu membuat hatinya hangat setiap kali namja di hadapannya ini mengucapkannya. Tapi tidak bisa dipungkiri, trauma dan ketakutan akan kehilangan namja yang sangat penting untuknya itu masih mendominasi pikiran Jiyeon, meskipun hatinya melonjak gembira. Hal itulah yang membuat Jiyeon tetap membisu tanpa tahu apa yang harus dilakukannya selain menatap lurus mata Woohyun.

“Araso!” ujar Woohyun sambil berdiri membuat Jiyeon harus menengadahkan kepalanya sambil menatap bingung namja itu. “Kau tidak percaya padaku bukan? Kalau begitu aku akan membuktikannya! Ku tunggu saja.” sambung Woohyun yakin membuat kerutan di kening Jiyeon bertambah dalam.

***

Siang itu Jiyeon masih berbaring di atas tempat tidurnya. Kejadian semalam membuatnya baru bisa terlelap pada pkl. 03.00 pagi. Beruntung, hari ini tidak ada jadwal kuliah yang harus diikutinya. Jiyeon tertidur pulas layaknya seorang bayi. Tidak ada kerutan-kerutan kesedihan di sana, malah seulas senyum yang nampak. Sepertinya yeoja ini memiliki mimpi yang indah di tidurnya.

Namun sepertinya mimpi indahnya itu harus segera berakhir. Untuk kesekian kalinya ponselnya berdering. Jiyeon meraba-raba meja kecil di samping tempat tidurnya, berusaha menggapai ponselnya. Jiyeon sempat berdecak sebal karena merasa terganggu sebelum akhirnya menerima panggilan masuk itu tanpa melihat nama si penelepon.

“Yeoboseyo!” ujar Jiyeon malas masih dengan mata terpejam. Ia menggaruk-garuk lehernya sendiri lalu membiarkan teleponnya menempel di telinga tanpa dipegang.

“YAA, PARK JIYEON! Kau masih tidur? Sekarang jam berapa, huh? Dasar yeoja pemalas!” seru seorang yeoja di seberang telepon.

“Hmm..ada apa Jieun-ah?” tanya Jiyeon tidak mempedulikan omelan sahabatnya itu.

“O, matta! Cepat lihat berita sekarang!” ujar Jieun mengebu-gebu.

“Unthuk apwa? Akuw mwasih mengantuk, chingu-yah!” balas Jiyeon sambil menguap.

“YAA! CEPAT BANGUN SEKARANG JUGA DAN SEGERA LIHAT BERITA! MANTAN NAMJA CHINGUMU ITU SUDAH GILA!” tukas Jieun sukses membuat kesadaran Jiyeon terkumpul semua.

Jiyeon langsung terlonjak dari tempat tidurnya dan buru-buru menuruni anak tangga menuju ruang tengah di mana biasa ia menonton televisi. Ponselnya yang masih terhubung dengan Jieun, dibawanya tanpa ia tempelkan di telinga.

Yeoja ini langsung meraih remote TV yang terletak di atas meja dengan tangannya yang kosong lalu menekan salah satu tombolnya. Detik berikutnya TV 21 inci di hadapannya itu menyala. Jiyeon duduk di sofa rumahnya dengan melipat kedua kakinya hingga lutut dan dagunya hampir bertemu. Ia juga tidak lupa menggigiti kuku ibu jarinya, seperti yang biasa dilakukannya saat gugup.

“Nam Woohyun, salah satu member INFINITE, idol group popular saat ini baru saja menyatakan sesuatu yang mengejutkan” terdengar suara reporter yeoja dari layar kaca. Detik berikutnya terlihat situasi sebuah konferensi pers di mana ketujuh member INFINITE duduk berjajar dibalik meja panjang. Kilauan blitz ikut meramaikan suasana di lokasi itu. Tidak lama kemudian, namja yang menjadi sorotan mengeluarkan suaranya.

“Jiyeon-ah, saranghamnida! Nae Yeojachinguga Dweojullae?” ujar Woohyun sambil menatap ke arah kamera seperti sedang menatap mata Jiyeon langsung.

To be Continued…

tolongnya di komen seperti biasanya..gomawoyooooo ^^

Advertisements

36 thoughts on “INFINITE LOVE (Chapter 10a)

  1. Akhirnyaa dipos juga ^^

    Huahh feelnya dapet ßųųααπğèť thor
    Update soon thor penasaran.,

    Senangnya Woohyun memproklamasikan hub nyaa di media wkwkwwkwkwk

  2. Yeay I’m first (ง’̀⌣’́)ง
    ЂέЂέЂέ :D(◦ˆ⌣ˆ◦):D
    Lama skaliiiiiiiiiiiiiiiiiii hahahaha
    Tpi gpp deh yah wlaupun bkn ending (‾.‾”)
    Tpi gpp -lgi- ЂέЂέЂέ :D(◦ˆ⌣ˆ◦):D
    Uwoo Namu kykny ū∂åћ sedeng ya (‾.‾”)
    Nnti klo Jiyeon di sakitin şǻ♏ǻ fansnya namu gimana? Q ikutan ah *?* #abaikan#
    Lnjut ya eooon!!!

  3. Akhirnya oen lanjut juga yeeee…. hahahaa
    Omo akhirnya mereka bersatu juga…
    woohyun neo jengmal so sweet bangeet….
    omo seneng bangeet..
    Woohyun jiyeon jjang!!!(>_<)↗

  4. Wahhhhhh setelah sekian lama akhirnya ff ini lanjut juga 😀

    Woohyun ngungkapin hub nya sama jiyeon ke media?? Trus reaksi soojung n sajangnim nya gmn?? So curious chinguuuu ><

    Kerenz kerenz kerenzzzzz feel dpt bgt chingu lanjutannya jgn lama2 yaaaa 🙂

  5. NAM WOOHYUN!
    SARANGHAE!!!

    Author, ff-mu semakin tak memudarkan kecintaanku pada namja itu *tak berdaya*
    astaga,,
    daebak to the max,,
    membayangkan tiba-tiba Woohyun ngadain konferensi pers dan bilang itu,,
    such a man!!!
    lekaslah thor, lekas part B-nya,,

    btw, 0609 tggal jadian Woohyun & Jiyeon,
    pnya saya juga tuh min :p
    itu artinya ada kemungkinan suatu hari nanti saya bakal jadian atau mungkin merit dengan Woohyun *lgsg di avada kedavra inspirit*

    • aku juga makin cinta sama WOohyun..
      wkwkwkwkwkkw..
      ngarep sendiri jadinay waktu bikin ne FF..
      hahahahahhaah..
      kamu ulang taun 0609 maksudnya?
      hahhah
      thx yaaaa

  6. Akhr’nya… Di post juga nihh FF… 😀

    omo…omo 😮 Namu oppa ngungkapin perasaan’nya didepan Media… Kyaaa >.< Daebak ^.^b
    gmna tuhh nanti'nya Reaksi Soojung…?

    Penasaran ama next part'nya…
    Ayo thor cepet di post next part'nya… 😉

    Everything Happen Under The Moon juga ditunggu… Hihihi 😀

  7. omo!! authornim, aku sampe bolos kuliah loh, buat baca ne FF, abis ne FF KEREEEENNNNNNNN banget, lebih keren dari dosen yang bacain Power Point doank di depan kelas… n buat ngasih support juga buat Authornim, biar ngepostnya kaga kelamaan lagiii, especially for IL n the next part of UTM.. XD (i’m not silent reader, kan?) hehehe…

  8. akhirnya keluar juga lanjutannya 😀
    aya kaka buruan dipost endingnya jangan lama-lama 😀

  9. yeay!!! gak nyangka ff ini bkln di lanjut.
    tak kirain gak akan di lanjut,
    huaaa…. Woohyun gantle bgt. dia lngsg ngakuin hubungan mereka ke publik 🙂
    tapi. gmn selanjutnya? apa fans nami bkln setuju
    aigoo…. A-Yo! lnjt author >-<

  10. aigoooo aku baru baca FF ini maaf baru comment thor,

    ya ampun dari awal story nya emang udah PERFECT alias SEMPURNA thor 😀

    ya ampunn pengorbanan jiyeon sungguh luar biasa haha woohyun dirimu so sweet sekali O,o
    #mau dong punya pacar kaya woohyun

    author JAANG !!!

  11. omo… woohyun nyatain di konferensi pers ? uahh, oppaku udah gila kayaknya ><. tapi so sweet bangeet.

    eonnie daebak deh. ceritanya ngena banget. pokoknya, DAEBAKK ^^

  12. aigoooooooooooooo dah lama gak main blog ini…. ;D
    ternyata dah lanjut jga nie ff dah nyampe part end lgi… ketinggalan… 😥
    knpa lam asangat drimu kmbali chingu????hehehe

    aiiiisssssh akhirnya wooyeon bersatu again,,,,#jingkrak”geje# 😀
    mga ja gak akan da lgi pengganggu hubngan mereka lgi…. 🙂

  13. Akhirnya publish juga hiks…. sudah lama menunggu FF ini *terharu*
    Komen dulu sebelum baca :B

    ntar aja part akhir aku kasih pendapatnya XD

  14. Pertemuan mrk mengharu biru?,romantis,so sweet n lucu juga >< senyum2 ku bacanya. Aigoo apa kira2 rencana woohyun? Lanjut baca lagi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s