INFINITE LOVE (Chapter 7)

Title                 : Infinite Love (Chapter 7)

Author             : Bee678

Rating             : Teenager

Length             : Chapter

Genre              : Romance

Cast                 : Nam Woohyun, Park Jiyeon

Other cast        :Im Jaebum, Jung Soo Jung (Krystal), INFINITE Member’s

Disclaimer       : 100% original buatan author kecuali castnya..Say No to tukang fotokopi (Plagiat!!)

*NB: Ini part terakhir flashback..terus yang part ini agak banyak mengulang part 1..hehehehe..Happy Reading..jagnan lupa komentar biar tambah semangat lanjutinnya..GOMAWO..GBU all ^^

All Author POV

Jiyeon berdiri di depan sebuah café dengan hati yang tidak tenang. Yeoja ini terlihat ragu untuk masuk ke dalam. Otaknya terus berpikir apa tujuan Soojung mengajaknya bertemu hari ini. Firasatnya mengatakan apa yang akan dibicarakan Soojung nanti bukanlah hal baik.

Setelah berhasil meyakinkan dirinya sendiri, yeoja ini menghela nafasnya lalu mendorong pelan pintu kaca di hadapannya. Ia langsung melemparkan pandanganya ke seisi café, mencari seseorang yang akan ditemuinya. Matanya berhenti pada sesosok yeoja berambut panjang lurus yang sedang menopang dagunya sendiri dengan tangan. Sekali lagi Jiyeon menghela nafasnya sebelum menghampiri orang yang menunggunya tersebut.

“Soojung-shi, maaf aku terlambat.” ujar Jiyeon ketika telah berdiri di depan meja yang Soojung tempati. Yeoja yang namanya baru disebut itu menoleh lalu tersenyum sekilas dan mempersilakan Jiyeon duduk di kursi kosong di hadapannya.

“Aku sudah memesankanmu orange juice. Kupikir seleramu dengan sepupumu tidak akan beda jauh. Kau tidak keberatan kan?” ujar Soojung lalu tersenyum. Jiyeon hanya mengangguk.

Cih, mau sampai kapan kau berpura-pura menjadi sepupunya di depanku, kata Soojung dalam hati sambil tetap mempertahankan seulas senyuman di wajahnya.

Kata-kata Soojung itu membuat hati Jiyeon semakin tidak enak. Ucapannya barusan lebih terdengar seperti sindiran daripada pernyataan biasa. Jiyeon juga yakin senyuman yang dipamerkannya saat ini bukan senyuman tulus yang diberikan untuknya.

Tidak lama kemudian seorang pelayan datang dengan membawa secangkir kopi dan segelas jus jeruk. Soojung langsung meneguk minuman miliknya. Tidak ada tanda-tandan yeoja itu akan memulai pembicaraan mereka. Keheningan ini membuat Jiyeon semakin tidak nyaman. Akhirnya dengan ragu, ia pun mulai mengeluarkan suaranya.

“Jeogiyo, Soojung-shi..” kalimat yeoja ini terhenti sesaat ketika matanya dan mata Soojung bertemu. “Sebenarnya hal apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Jiyeon hati-hati.

Soojung meletakkan cangkir yang dipegangnya lalu menatap lurus yeoja di hadapannya. Detik berikutnya ia membuka tas tangannya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas foto dari dalamnya. Tanpa berbicara sedikitpun, Soojung menyodorkan foto-foto itu ke arah Jiyeon. Soojung langsung menggerakkan dagunya saat melihat kening Jiyeon berkerut.

Dengan penuh pertanyaan di otaknya, Jiyeon mengambil foto-foto yang disodorkan Soojung padanya. Matanya membulat saat melihat orang yang berada dalam foto tersebut. Jiyeon menatap Soojung dan foto-foto di tangannya bergantian.

“Apa kau bisa menjelaskan semua itu?” tanya Soojung akhirnya sambil menatap lurus yeoja di depannya.

Wajah Jiyeon mendadak pucat. Ia buru-buru menyeruput minumannya karena merasa tenggorokannya kering. Jantungnya berdegup kencang melihat tatapan Soojung yang sulit diartikan.

“Apa kau tidak bisa mengatakan kalau di foto itu Woohyun Oppa sedang menghajar seorang pria demi melindungimu? Melindungi yeoja chingunya.” sambung Soojung pelan tapi sangat menusuk. Lagi-lagi Jiyeon dibuat tersentak oleh ucapan yeoja di hadapannya. Tangan dan kakinya terasa beku seketika.

“Jadi, kau sudah mengetahuinya?” tanya Jiyeon pelan. Soojung mendengus sambil mengalihkan pandangannya ke lain arah untuk sesaat.

“Kalian pikir aku bodoh? Sejak pertama aku melihatmu dengan Woohyun Oppa di malam natal itu, aku sudah tahu kalau kalian memiliki hubungan khusus. Bukan sebagai sepupu, tapi sepasang kekasih. Dan aku tidak menyukainya. Aku rasa kau juga tahu hal itu kan?” ungkap Soojung sambil kembali menatap lawan bicaranya.

Jiyeon bergeming. Ia balas menatap Soojung lurus. Apa yang dikatakan Soojung memang benar. Selama ini Jiyeon sudah curiga kalau yeoja yang bersamanya saat ini, menaruh hati pada namja chingunya. Bahkan Jiyeon selalu merasa kalau Soojung bukanlah yeoja biasa yang mampu ia “singkirkan” dari hubungannya dengan Woohyun.

“Kau tahu, aku menghabiskan cukup banyak uang untuk membeli foto-foto yang tadinya akan dipublikasikan ini.”

“Mworago?” ujar Jiyeon setengah berteriak. Soojung langsung mendelik lalu mendengus kesal karena beberapa pengunjung yang ada di sana menoleh ke meja mereka berdua. “Soojung-shi, gomawoyo! Kau telah menyelamatkan citra Woohyun Oppa.” sambung Jiyeon lebih pelan. Soojung lagi-lagi mendengus.

“Hal seperti ini tidak akan pernah terjadi kalau dia tidak berhubungan denganmu!” ujar Soojung tajam, menusuk tepat di hati Jiyeon. “Aku sudah tidak mau bertele-tele denganmu. Aku mengajakmu ke sini untuk meminta balasan darimu.” sambung Soojung dengan ketus.

“Balasan? Balasan apa yang kau maksud? Kalau uang, mungkin aku tidak dapat memberikanmu sekarang…”

“Aniyo. Kau tenang saja! Aku tidak akan memeras uangmu.” sela Soojung. Jiyeon menatap yeoja yang saat ini meneguk cangkir kopinya bingung. “Apa yang aku inginkan sangat mudah.” sambungnya.

Firasat buruk yang sedari tadi ada di dalam hati dan pikiran Jiyeon langsung mencuat kembali. Meskipun Soojung mengatakan apa yang akan dimintanya adalah hal yang mudah, tapi  bagi Jiyeon, apa yang akan didengarnya setelah ini adalah sesuatu hal yang pasti membuat hatinya mencelos. Tanpa sadar JIyeon meremas foto-foto yang ada di tangannya, menunggu Soojung melanjutkan kalimatnya.

“Aku hanya ingin kau segera mengakhiri hubunganmu dengan Woohyun Oppa.” katanya pelan tanpa mengalihkan pandanganya dari cangkir kopi. “Tentu saja kau boleh tidak memenuhi permintaanku ini. Tapi kau tahu, aku bukan yeoja yang dermawan, yang rela menghabiskan uangku untuk hal yang tidak menguntungkan bagiku. Dan aku yeoja yang tidak akan berhenti sampai aku mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliku.” lanjut Soojung sambil tersenyum dan menatap lurus bola mata Jiyeon.

Jiyeon bergeming. Ia tidak mampu berkata apa-apa. Apalagi setelah mendegar ucapan terakhir Soojung yang sarat akan ancaman. Dadanya terasa sesak. Saat ini rasanya sulit sekali untuknya memasukkan oksigen ke dalam paru-parunya.

“Ah, sepertinya aku harus segera pergi dari sini.” ujar Soojung sambil melirik jam tangannya. Ia mengambil tas tangannya di atas meja lalu kembali berucap, “Kau tidak perlu menjawab sekarang. Pikirkan saja dulu apa yang menurutmu terbaik untuk namja yang sama-sama kita cintai.”

Jiyeon tetap tidak bersuara. Rahangnya terkatup rapat, matanya memandang kosong ke arah meja bulat di hadapannya. Soojung bangkit dari kursinya lalu berjalan melewati yeoja ini.

“Omo, aku lupa memberi tahukanmu satu hal lagi!” kata Soojung tepat di samping Jiyeon. “Kau tentunya tahu alasan mengapa INFINITE akhir-akhir ini semakin sering muncul di televisi bukan?” sambung Soojung lalu mengukir senyum penuh kemenangan di bibirnya. “Pikirkanlah dengan baik, Park Jiyeon-shi!” Soojung mengakhiri kalimatnya lalu beranjak meninggalkan café itu.

Tubuh Jiyeon merosot sejadinya saat Soojung sudah tidak ada di tempat itu. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya menetes juga. Jiyeon kembali memandangi foto-foto yang sudah agak kusut dibagian ujungnya karena ia remas demi menahan emosinya.

“Oppa, aku tidak menyangka ternyata akulah yang hampir merusak masa depanmu. Mianhe!” gumam Jiyeon. Detik berikutnya ia menundukkan kepalanya, membiarkan kedua tangannya menopang keningnya. Tapi aku tidak mau berpisah denganmu, kata Jiyeon dalam hati.

Jiyeon berjalan lunglai sambil menunduk menelusuri gang rumahnya. Ia tidak begitu memperhatikan keadaan sekitar. Otaknya terlalu sibuk mengulang kata-kata Soojung beberapa menit lalu. Ia bahkan tidak sadar kalau selangkah lagi ia akan menabrak seseorang.

“Yaa! Apa sekarang kau tidak punya mata?” ujar seorang namja kesal.

Jiyeon mendongakkan kepalanya untuk menatap namja yang baru ditabraknya. Matanya menangkap sosok Jaebum yang tengah memandang ke arahnya dengan kesal sambil memegangi dada kanannya. Namun tiba-tiba ekspresi namja ini berubah saat melihat wajah Jiyeon yang tidak karuan dengan mata sembab. Jelas sekali kalau yeoja ini habis menangis.

Jiyeon menganggukkan kepalanya sebagai permintaan maaf, lalu kembali melangkah melewati namja di depannya. Jaebum membalikkan tubuhnya mengikuti gerakan Jiyeon. Ia terus menatap punggung yeoja itu hingga Jiyeon masuk ke dalam rumahnya.

“Kenapa lagi dengan anak itu?” gumam Jaebum dengan kening berkerut.

Semenjak pertemuannya dengan Soojung, Jiyeon jadi lebih pendiam. Otaknya terus memaksa dirinya menuruti kata-kata Soojung untuk mengakhiri hubungannya dengan Woohyun. Tapi hatinya menolak dengan tegas. Mulai saat ini, setiap kali ia mendengar atau melihat langsung wajah Woohyun, dua perasaan yang berbeda bergulat hebat di dalam dirinya. Namun, sampai saat ini ia masih tetap bersikeras untuk mempertahankan Woohyun di sisinya.

Hingga akhirnya Jiyeon semakin terpojok saat ia menyadari member INFINITE semakin jarang muncul di layar kaca. Padahal mereka baru saja melakukan come back mereka. Selain di program musik regular, tidak lagi ada acara yang menggunakan para member INFINITE sebagai bintang tamunya. Awalnya yeoja ini merasa semuanya hanya kebetulan, namun hal itu sudah berjalan sebulan dan tidak ada tanda-tanda para member INFINITE akan kebanjiran tawaran pekerjaan seperti sebelumnya.

Siang itu, saat Jiyeon tengah serius megerjakan tugas kuliahnya, tiba-tiba konsentrasinya terusik pada ponselnya yang bergetar. Ia meraih telepon genggamnya tanpa mengalihkan matanya dari depan laptop. Setelah menekan tombol enter pada keyboard laptopnya, Jiyeon segera membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.

Jantung yeoja ini seakan berhenti berdetak untuk sesaat ketika mengetahui siapa pengirim pesan tersebut. Dengan ragu Jiyeon membuka pesan dari Soojung itu.

From: Soojung-shi

Apakah kau masih tetap mau keras kepala? Aku bukanlah seorang wanita yang sabar. ^^

Jiyeon termenung menatap setiap kata yang ada di layar ponselnya sampai akhirnya ia tersentak oleh getaran ponsel di tangannya. Wajah Woohyun muncul di layar.

“Wae, Oppa?” tanya Jiyeon pelan.

“Mengapa suaramu seperti itu? Kau tidak senang aku meneleponmu?” ujar Woohyun tidak puas.

“Ani. Aku senang.” jawab Jiyeon. Ironis, apa yang baru keluar dari bibir mungilnya berbanding terbalik dengan yang dirasakannya sekarang. “Ada apa Oppa meneleponku siang-siang begini? Bukankah seharunya kau berada di pesawat menuju Thailand?”

“Ne. Tapi penampilan kami dibatalkan.”

“MWO?” pekik Jiyeon.

“Entah apa alasannya, pihak menejemen masih mengurusinya.” jawab Woohyun lemas. Jiyeon bergeming. Ia kembali mengingat setiap kata yang diucapkan Soojung padanya sampai sms terakhir yang baru dibacanya beberapa detik yang lalu. Poselnya masih ia tempelkan di telinga, namun yeoja ini sama sekali tidak mendengarkan ocehan orang di seberang telepon. “Jiyeon-ah, apakah kau mendengarkanku? PARK JIYEON!”  seru Woohyun sedikit berteriak di akhir kalimat berhasil membuat lamunan yeoja ini buyar.

“Ne, Oppa? Mianhe. Apa yang tadi kau katakan?” ucap Jiyeon merasa bersalah. Woohyun menghela nafas dari seberang telepon.

“Ada yang menggangu pikiranmu? Apa itu? Ceritakan saja padaku! Sekarang kan aku sedang menganggur.” Jiyeon tidak langsung menjawab.

Kalau seperti ini terus, lama-kelamaan INFINITE akan tenggelam. Dan semua itu karena aku. Kegeoisanku dapat membuat Woohyun Oppa menderita, batin Jiyeon dengan menahan rasa sesak di dadanya.

“Jiyeon-ah….” panggil Woohyun karena yeoja chingunya tak kunjung bicara.

“Oppa, apa kau mencintaiku?” ujar Jiyeon akhirnya. Suaranya terdengar sangat lirih. Tangannya mengggenggam poselnya kuat-kuat.

“Tentu saja! Pertanyaan macam apa itu?” protes Woohyun.

“Kalau begitu, apa Oppa bersedia melakukan segala hal untukku?” tanya Jiyeon lagi mengabaikan protes kekasihnya tadi.

“Kau ini kenapa, Jiyeon-ah?” tanya Woohyun bingung.

“Apa Oppa bersedia melakukan segalanya untukku meskipun itu akan menyakiti hati Oppa sendiri?” ulang Jiyeon. Woohyun terdiam untuk sesaat. Saat ini yang terdengar hanyalah deru nafas kedua orang tersebut dari balik telepon.

“Aku akan melakukannya. Asal bisa membuatmu terus tersenyum, meskipun itu menyakitkan untukku, aku tetap akan melakukannya.” jawab Woohyun akhirnya tanpa keraguan sedikitpun. Hati Jiyeon mencelos. Setetes air jatuh dari pelupuk matanya yang sudah basah sejak tadi.

Ne, kau benar Oppa, aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu. Aku ingin selalu melihatmu tersenyum meskipun bukan tersenyum langsung di depanku. Aku tidak akan membiarkanmu kehilangan apa yang sudah menjadi impianmu sejak dulu. Aku mengalah, ujar Jiyeon dalam hati.

“Gomawo, Oppa!” gumam Jiyeon.

***

Woohyun sibuk memilih pakaian yang akan dikenakannya nanti malam untuk berkencan dengan Jiyeon. Sebuah senyuman terus terukir di bibir namja ini. Hari ini sangat spesial baginya. Selain karena Jiyeon berinisiatif mengajaknya kencan terlebih dulu, ada hal lain yang membuatnya bahagia. Beberapa jam yang lalu manajernya membawa kabar gembira untuk INFINITE. Mereka diundang menjadi salah satu wakil artis Korea yang akan tampil di Perancis.

Namja ini pergi menuju Sungai Han, tempat ia dan Jiyeon berjanji untuk bertemu. Sesampainya di Sungai Han dan setelah memarkirkan mobilnya, Woohyun langsung berlari menemui yeoja chinggunya. Ia terlambat hampir setengah jam dari waktu yang sudah ditentukan. Langkahnya berhenti saat melihat sesosok yeoja yang ia kenal sedang duduk mengarah ke Sungai Han.

Woohyun melanjutkan langkahnya dan tanpa sadar menggulum senyuman dibibirnya. Namun, saat tinggal beberapa langkah lagi, namja ini memperlambat jalannya dan senyuman yang tadi menghiasi wajah tampannya berangsur-angsur menghilang. Yeoja itu terlihat sedih di matanya.

Akhir-akhir ini kau terlihat aneh, Park Jiyeon. Sebenarnya ada apa, pikir Woohyun. Namja ini bergeming untuk beberapa saat. Matanya tidak lepas dari yeoja cantik yang tengah mendongakkan kepalanya ke langit sambil memejamkan kedua matanya. Woohyun menghela nafas sebelum akhirnya memutuskan untuk menghampiri yeoja itu.

“Jiyeon-ah, maaf aku terlambat!” ujar Woohyun. Detik berikutnya Woohyun memergoki yeoja chinggunya itu mengusap asal wajahnya. Namja ini terdiam sesaat sampai akhirnya ia memilih untuk tersenyum dan memeluk yeoja itu.

“Bogosipeo..jeongmal bogosipeoyo!” kata Woohyun tepat di telinga Jiyeon. Namun tidak ada tanggapan dari yeoja ini. “Jiyeon-ah, gwaenchanha? Apakah kau sedang sakit?” sambung Woohyun karena tidak juga mendapat jawaban dari lawan bicaranya. Namja ini melepaskan pelukannya lalu menempelkan tangannya ke kening Jiyeon.

“Ani, Oppa! Aku tidak apa-apa.” jawab Jjyeon sambil menjauhkan kepalanya dari tangan namja di depannya.

“Lalu mengapa kau diam saja dan tidak membalas pelukanku?” tanya Woohyun sambil menggembungkan pipinya seperti anak kecil. “O, apakah kau marah karena aku terlambat? Mian!” sambungnya lalu mengosok-gosokan kedua tangannya sebagai permintaan maaf. Jiyeon menggeleng.

“Aku sudah terbiasa dengan keterlambatanmu. Aku bisa apalagi, salahku sendiri berpacaran dengan idola terkenal sepertimu.” Woohyun terkekeh sambil mengusap punggung lehernya sendiri.

“Oppa, ada yang ingin aku bicarakan.” ujar Jiyeon pelan sambil menunduk.

“Hm? Baiklah, aku juga ingin memberi tahu sesuatu padamu. Tapi sebaiknya kita makan dulu, otte? Aku sangat lapar. Seingatku tadi siang aku belum makan.” kata Woohyun sambil memegangi perutnya.

Woohyun langsung menarik tangan Jiyeon begitu yeoja ini mengangguk. Ia membawa yeoja chingunya itu menuju café yang masih berada di kawasan Han River. Setelah menghabiskan waktu cukup lama untuk makan malam, pasangan ini melanjutkan kencan mereka dengan berjalan-jalan menelusuri Sungai Han. Malam hari seperti ini Sungai Han menjadi pilihan favorit bagi para pasangan yang sedang berkencan. Permainan cahaya di sungai ini menambah kesan romantis bagi para penikmatnya.

Selama kencan ini Woohyun sukses dibuat bingung dengan sikap Jiyeon yang mendadak jadi lebih pendiam. Bahkan saat ia memberi tahukan kabar gembira tentang INFINITE, yeoja ini terlihat tidak begitu bahagia. Walaupun pada akhirnya Jiyeon tetap memberikan senyuman manisnya pada namja chinggunya. Yeoja ini juga sempat membuat wajah Woohyun memerah karena gugup akibat rayuan manisnya. (Part 1)

Tepat pkl. 11.30 malam Woohyun terpaksa mengikuti kemauan yeoja chingunya untuk pulang. Selama perjalanan namja ini tidak henti-hentinya menggoda dan membuat Jiyeon kesal. Ia senang melihat yeojanya ini menggembungkan pipinya atau mengerucutkan bibir mungilnya.

Tidak lama kemudian mereka tiba di komplek tempat tinggal Jiyeon. Woohyun menghentikan mobilnya tidak jauh dari rumah Jiyeon. Namja ini langsung membukakan pintu mobilnya untuk yeoja chingunya lalu mengulurkan tangannya pada Jiyeon sambil tersenyum. Jiyeon menyambut tangannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Keduanya menelusuri jalan yang sudah sangat sepi ini dalam diam. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Woohyun menggenggam tangan Jiyeon dengan erat dan menuntunnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Sedangkan Jiyeon sendiri tengah mempersiapkan hatinya untuk mengatakan keputusannya pada Woohyun.

“Jiyeon-ah, wae?” tanya Woohyun saat Jiyeon tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Oppa, bukankah tadi aku mau mengatakan sesuatu padamu? Sepertinya hatiku sudah siap untuk mengatakannya sekarang.” ujar Jiyeon.

“Oh iya benar.  Sebenarnya apa yang ingin kau katakan sampai harus mempersiapkan hatimu segala?” tanya Woohyun sambil tersenyum. Yeoja ini menatap namja dihadapannya sebentar sebelum mulai berbicara.

“Oppa, gomawo! Hari ini aku sangat senang bisa bersamamu.”

“Na do.” jawab Woohyun disusul gelengan kepala Jiyeon.

“Ani. Tidak hanya hari ini. Aku sangat bahagia setiap kali bersamamu bahkan jauh sebelum kau menjadi terkenal seperti sekarang. Aku selalu merasa nyaman jika berada di sampingmu.” jelas Jiyeon sambil menghindari kontak mata dengan namja itu. Woohyun tersenyum lalu membungkukan badannya sedikit agar sejajar dengan yeoja chingunya. Ia mengelus puncak kepala Jiyeon lembut.

“Mengapa kau tiba-tiba bicara seperti ini? Kau tahu Jiyeon-ah, justru aku yang sangat berterima kasih padamu karena kau selalu ada untukku.” kata Woohyun tulus sukses membuat pandangan Jiyeon kabur akibat tertutup air mata. Yeoja ini segera menundukkan kepalanya agar Woohyun tidak dapat wajahnya sekarang.

Untuk beberapa saat hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Sesekali terdengar suara jangkrik yang saling bersautan. Hingga akhirnya Woohyun merengkuh yeoja di hadapannya. Hati namja ini mendadak tidak nyaman.  Ia mempererat pelukannya seakan tidak mau melepaskan yeoja itu. Perlakuan lembut Woohyun saat ini justru membuat hati Jiyeon semakin sakit.

“Oppa, uri heeojija.” ujar Jiyeon akhirnya lebih seperti berbisik. Jiyeon memutuskan untuk segera mengakhirinya sebelum hatinya kembali goyah untuk kesekian kalinya. Woohyun langsung melepaskan pelukannya dan menatap yeoja di depannya tidak mengerti. “Aku ingin kita putus.” kata Jiyeon lagi kali ini dengan suara yang lebih keras sambil menatap mata Woohyun lurus.

“Ji..Jiyeon-ah, a..apa yang baru kau katakan? Aku tidak suka bercanda dengan hal ini!” ujar Woohyun terbata-bata. Otaknya terasa beku mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari yeoja sudah dua tahun terakhir ini menjadi kekasihnya.

“Aku sedang tidak bercanda, Oppa! Aku rasa mulai sekarang lebih baik kita berteman saja.” timpal Jiyeon. Suaranya mulai terdengar bergetar.

Yeoja ini berusaha sekuat tenaga untuk  menahan air matanya agar tidak jatuh. Woohyun masih menatap kedua bola mata Jiyeon lurus. Ini hal yang tidak pernah ia bayangkan. Keringat dingin mulai menjalar ke sekujur tubuh namja ini. Wajahnya memucat. Detik berikutnya ia menggeleng lalu memegang bahu Jiyeon.

“Andwae Jiyeon-ah! Aku tidak mau putus denganmu! Apa salahku? Aku akan memperbaikinya! Tapi aku mohon kau jangan tinggalkan aku!” tolak Woohyun. Untuk kesekian kalinya Jiyeon menggeleng.

“Aniyo, Oppa! Kau tidak salah sama sekali. Semua ini murni karena keinginanku.”

“Kalau begitu mengapa kau ingin putus denganku?” tanya Woohyun sedikit berteriak. Ia masih tidak mengerti jalan pikiran Jiyeon. Selama ini Woohyun pikir hubungannya dengan yeoja ini baik-baik Memang, belakangan ini Woohyun merasa Jiyeon sedikit berubah. Tapi ia tidak pernah menyangka perubahan sikapnya itu karena yeoja itu ingin putus dengannya. “Jiyeon-ah, cepat katakan, apa yang membuatmu tidak puas padaku? Aku janji akan merubahnya. Aku akan…”

“Oppa, geumanhae!” seru Jiyeon sambil menghempaskan kedua tangan Woohyun dari bahunya. “Aku lelah. Itu alasannya.”

“Aku tidak mengerti. Bukankah sebelumnya kau bilang kalau kau  nyaman bersamaku? Tapi sekarang kau bilang kau lelah?” tanya Woohyun cepat.

“Ne. Kuakui aku sangat bahagia saat bersamamu. Tapi di sisi lain aku juga merasa lelah dengan semua ini. Aku lelah dengan situasi yang ada.” jawab Jiyeon pelan. “Kau pikir bagaimana rasanya saat melihat orang lain atau teman-temanku bebas membicarakan pasangannnya, bebas berkencan tanpa takut diikuti fans atau paparazi? Atau disaat mereka membutuhkan seseorang untuk berbagi, pasangan mereka selalu ada dan siap mendengarkan!” sambung yeoja ini setengah berteriak sukses membuat tubuh Woohyun menegang. Rahangnya terkatup rapat. Namja ini menatap Jiyeon seakan tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan yeoja itu. Jiyeon buru-buru mengalihkan pandangannya ke lain arah, mencegah air matanya tumpah. “Oppa, tadi kau bertanya padaku apa kesalahanmu?” tanya Jiyeon sambil kembali menatap namja di depannya. Woohyun masih tetap bergeming, menunggu Jiyeon menyelesaikan kalimatnya. “Kalau hal ini bisa dianggap sebagai kesalahanmu, maka akan kukatakan bahwa title-mu sebagai seorang idola, itulah kesalahanmu.”

“Jiyeon-ah…” panggil Woohyun dengan suara bergetar. Matanya mulai memerah.

“Oppa, apa kau bisa merubahnya? Apa kau mau meninggalkan karir artismu itu?” sela Jiyeon. Woohyun hanya bisa terdiam. Jiyeon tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya, “Aku tahu kau tidak bisa. Kau tidak akan mau melepaskan mimpi yang menjadi cita-citamu sejak dulu. Maka dari itu, aku yang mengalah. Aku yang mundur.” Yeoja ini menarik nafas  berat lalu kembali berbicara, “Oppa, kalau kau benar-benar mencintaiku, kau pasti akan membiarkanku terbebas dari beban ini bukan?” Woohyun tetap bergeming. “Sekali lagi aku sangat berterima kasih karena bisa merasakan rasa sayangmu untukku. Annyeonghi kyeshopshiyo!” kata Jiyeon mengakhirinya. Ia anggukkan sedikit kepalanya sebelum pergi meninggalkan Woohyun.

Namja ini mematung di tempat. Dikepalkannya kedua tangannya disamping tubuhnya. Ia memikirkan kalimat terakhir yang diucapkan Jiyeon padanya. Antara impiannya dan perasaannya. Keputusan yang sulit bagi Woohyun. Namun tiba-tiba terlintas di benaknya senyuman pertama Jiyeon yang membuatnya bertahan hingga hari ini, yang membuatnya menjadi bintang besar seperti saat ini. Semua karena dia, batin Woohyun.  Detik berikutnya namja ini menarik tangan yeoja yang baru beberapa langkah  meninggalkannya.

“Aku bisa!” kata Woohyun lantang sukses membuat Jiyeon tersentak. “Aku akan meninggalkan karir keartisanku. Aku bisa melepaskan semuanya, asal itu bukan kau.” sambungnya. Seketika itu juga tembok pertahanan yang susah payah dibangun Jiyeon, hancur.

Oppa, hentikan, aku mohon! Aku sudah tidak mau menyakitimu dengan kata-kataku lagi. Bagaimana mungkin kau mau melepaskan impianmu hanya untuk yeoja sepertiku? batin Jiyeon. Hatinya sudah menjerit karena menahan rasa sakit.

“Kau dengar itu, Jiyeon-ah? Aku akan mengundurkan diri dari dunia hiburan demi kau.”

“Dan itu akan membuatku lebih terbebani!” seru Jiyeon sambil menghempaskan genggaman tangan Woohyun. “Mungkin untuk saat ini kau bisa mengatakan hal itu. Tapi sampai kapan? Bagaimana kalau suatu saat kau menyesalinya dan mulai menyalahkanku? Oppa, aku juga tidak mau dihantui rasa bersalah seumur hidupku. Jadi, aku mohon, biarkan aku pergi dan berhentilah mengemis seperti ini! Aku tidak pantas mendapatkannya. Itu hanya membuatmu terlihat sangat menyedihkan untuk ukuran artis sepertimu.” lanjutnya datar lalu bergegas pergi meninggalkan namja yang membeku itu dengan setengah berlari.

Untuk beberapa saat Woohyun tetap pada posisinya, tanpa bergerak sedikitpun. Ia menatap punggung Jiyeon yang lama-kelamaan menghilang dari pandangannya. Tenggorokannya terasa kering. Hatinya sangat perih. Kata-kata Jiyeon tadi berhasil menghujam jantungnya. Hal yang sangat ditakutinya terjadi juga. Yeoja itu meninggalkannya. Park Jiyeon baru saja mengakhiri hubungan mereka.

Woohyun membalikkan tubuhnya perlahan. Ia menyeret kakinya sendiri menuju mobilnya dengan tatapan kosong, nampak seperti orang bodoh. Tanpa Jiyeon dan Woohyun sadari, ada seseorang yang sejak tadi menyaksikan semuanya. Jaebum yang baru saja pulang dari apotik 24 jam untuk membeli obat sakit maag, tertegun di balik tiang listrik. Dari jarak sedekat itu, ia dapat mendengar jelas semua pembicaraan Jiyeon dan Woohyun.

***

“Hyung, kau baru pulang? Apa kau membelikan sesuatu untuk kami?” sambut Sungjong saat mendengar pintu dorm terbuka. Ia menghambur ke depan pintu dan berharap mendapatkan sesuatu dari hyungnya itu.

Woohyun tidak menghiraukan ucapan Sungjong. Ia melepas sepatunya lalu berjalan menuju kamarnya tanpa bicara sedikitpun. Sungjong mengikutinya dari belakang dengan kening berkerut. Detik berikutnya, ia dan kelima member INFINITE yang sedang berada di ruang tengah dibuat terkejut dengan suara pintu kamar yang dibanting cukup keras. Sunggyu, Dongwoo, Hoya, Sungyeol, dan L langsung menatap Sungjong bingung. Sang maknae hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengangkat bahunya.

Woohyun menjatuhkan tubuhnya ke lantai sambil bersandar ke pintu putih di belakannya. Setetes air mata tiba-tiba jatuh ke pipinya. Setelah bertahan beberapa saat, akhirnya namja ini sudah tidak mampu untuk menampung air matanya. Ia mengusap asal wajahnya lalu menundukkan kepalanya membiarkan sebelah tangan dan lututnya menopangnya. Tidak lama kemudian Woohyun memukul keras pintu di belakannya dengan sebelah tangannya yang bebas, berharap rasa sakit dan emosi yang berkecambuk di dadanya bisa berkurang. Ia bahkan berharap tangannya tidak terasa sakit, yang berarti kejadian tadi hanyalah sebuah mimpi. Namun kenyataannya, tangan namja ini memerah dan mulai berdenyut walaupun tidak sebanding dengan nyeri di hatinya.

***

“Jiyeon-ah, kau tidak kuliah hari ini?” tanya Eomma Jiyeon keesokan harinya. Entah sudah keberapa kalinya kalimat itu keluar dari mulut Tae Hee. Namun sama sekali tidak ada tanggapan dari puterinya. Hingga akhirnya wanita ini memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Jiyeon seraya berseru, “Sayang, bangunlah! Ini sudah siang.”

Tae Hee menempelkan telinganya pada daun pintu. Ia mulai cemas kalau-kalau terjadi sesuatu pada puterinya di dalam sana. Ia kembali mengetuk pintu kamar Jiyeon sambil sesekali menyerukan nama anaknya itu. Tidak lama kemudian terdengar bunyi kunci diputar dari dalam. Selanjutnya Tae Hee terkejut melihat kondisi puteri semata wayangnya yang sangat kacau. Matanya bengkak, wajahnya pucat, rambutnya berantakan.

“Eomma, aku tidak kuliah hari ini.” ujar Jiyeon lemah.

“Wae, Jiyeon-ah? Mani Appo?” tanya Tae Hee panik sambil memegang kening leher Jiyeon bergantian. Jiyeon menggelengkan kepalanya. “Wae, Jiyeon-ah?” tanya Tae Hee sekali lagi sambil menatap puterinya ini dalam.

Jiyeon membalas tatapan lembut Eommanya. Sedetik kemudian yeoja ini memeluk sang Eomma sambil menangis. Tae Hee terdiam sesaat karena bingung dengan sikap anaknya.

“Eomma, hubunganku dan Woohyun Oppa sudah berakhir!” seru Jiyeon kemudian ditengah-tengah isak tangisnya. Tae Hee terkejut mendengarnya. Sejujurnya ia ingin bertanya lebih jauh mengenai putusnya hubungan anak kesayangannya ini dengan Woohyun. Namun, Tae Hee lebih memilih diam dan membalas pelukan puterinya. Ia membelai kepala dan punggung Jiyeon tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun.

“Jiyeon-ah, apa perlu Eomma temani kau hari ini? Eomma akan minta ijin pada atasan Eomma.” kata Tae Hee menawakan diri setelah Jiyeon lebih tenang. Jiyeon menggelengkan kepalanya.

“Tidak perlu Eomma. Aku tidak apa-apa sendiri. Eomma pergi saja. Aku tidak mau menggangu pekerjaan Eomma.”
“Ani. Kau sama sekali tidak menggangu pekerjaanku, anakku!” sela Tae Hee. Jiyeon menggelengkan kepalanya sekali lagi.

“Nan gwenchanha, Eomma! Gomawoyo.” Tae Hee menatap puterinya itu sesaat sebelum akhirnya menghela nafas.

“Baiklah kalau begitu, Eomma berangkat kerja dulu! Kalau ada apa-apa telepon saja!” Jiyeon mengangguk sambil tersenyum tipis. “Jiyeon-ah, Eomma bersedia menjadi pendengarmu kalau kau sudah siap menceritakan semuanya.” sambung Tae Hee lalu mengelus kepala Jiyeon.

“Gomawo, Eomma!” jawab Jiyeon sambil tetap tersenyum.

Jiyeon merebahkan dirinya lagi di tempat tidur setelah Eommanya pergi. Ia menarik selimut di bawah kakinya dan meringkuk di dalamnya. Matanya yang merah karena tidak tidur semalaman, lagi-lagi mengeluarkan air mata. Jiyeon menangis di kamarnya tanpa suara. Ia menggigiti kuku tangannya sendiri berharap tangisannya itu akan berhenti. Tapi yang terjadi malah sebaliknnya, air mata ini semakin deras membasahi wajah pucatnya.

Tidak lama kemudian yeoja ini dibuat terlonjak kaget dengan suara ketukan pintu dari kamarnya. Jiyeon berpikir mungkin Eommanya yang mengetuk, karena ketinggalan sesuatu. Ia menghapus air matanya dengan kedua tangannya lalu berjalan gontai menuju pintu kamarnya. Ia memutar kenop pintu dan menariknya. Sedetik kemudian matanya yang sembab melebar saat mendapati seorang namja berdiri di depannya.

“Jae..Jaebum-ah, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jiyeon terkejut melihat tetangganya ada di depan kamarnya. “Apa Eomma yang menyuruhmu kemari? Tidak perlu! Kau pulang saja sana!” ujar Jiyeon tanpa memberi kesempatan pada Jaebum untuk berkomentar. Jiyeon mengalihkan pandagannya dari namja di depannya dan memasang tampang kurang bersahabat.

“Aku tidak sengaja melihat kau dan namja itu tadi malam.” kata Jaebum sambil menatap lurus yeoja berantakan di hadapannya. Jiyeon langsung menoleh ke arah namja itu. Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan.

“Araso. Kau kemari untuk mentertawaiku? Silakan! Tertawalah sepuasmu!” ujar Jiyeon ketus dan setetes air mata jatuh di pipinya. Jaebum menggeleng singkat.

“Aku kemari bukan untuk mentertawakanmu.” jawab namja itu. Jiyeon tersenyum sinis sekilas.

“Lalu? Berarti kau mau menghiburku?” tanya yeoja itu dengan nada meremehkan. Jaebum bergeming. “Aku sedang tidak dalam mood untuk berdebat denganmu. Sebaiknya kau pulanglah! Aku mohon.” lanjut Jiyeon kali ini dengan memelas sambil menghapus air matanya.

“Aku senang melihatmu menangis lagi.” ucap Jaebum datar sambil menatap lurus bola mata Jiyeon. Yeoja ini mendengus. “Karena itu berarti peranku sebagai pahlawanmu dapat kumiliki lagi.” sambung Jaebum sukses membuat kening Jiyeon berkerut. “Tapi ternyata hatiku sakit saat menyadari bahwa kau menangis karena namja lain.” tambah Jaebum. Jiyeon melotot mendengarnya.

“Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan? Berhentilah bermain-main Im Jaebum!” kata Jiyeon kesal.

“Park Jiyeon, aku ingin posisiku dihatimu kembali seperti dulu. Nan naega joa!” kata-kata Jaebum ini sukses membuat mata Jiyeon membulat.

To Be Continued

Advertisements

28 thoughts on “INFINITE LOVE (Chapter 7)

  1. Ya ampun,
    krystal jahat bnget sih. Kasihan jiyeon n woohyun.

    Oh itu toh alasannya jaebum cuek sma jiyeon ?
    Huuah, makin seru thor, lanjuttt

  2. Krystal mnyebalkan plus licik bngetzz jadi orng. . . Gunain Foto n’ pkerjaan’x tuk ngancem Jiji biar mtusin Namu. . .
    Kasian Namu ama Jiji harus putus. . .
    Jdi, alsn JB jadi orng yg dngin n’ cuek bngetz tuhh mngkin krna dirinya bkan yg no 1 lagi d’Hati Jiyeon krn, yg no 1 d’hati Jiyeon kan Woohyun. . .!

    Makin pnsran sama lnjutan nihh FF. . . D’tunggu next part’x scepat’x yahh thor. . .

    Thor, FF yg author post d’PJYFF *lupajudul’x* kpan d’post part 2 pnsran bngetz sama tuhh FF. . .

    • hohohoho..
      aku berniat beresin ini dulu..takut ilang feelnya.
      hahahahaha..
      yang under the moon secepatnya deehh..
      skripsi masih melambai-lambai untuk dikerjakan..=_=!!
      hahahahaha..
      thx yooo

  3. waduh jung soo jung? Hmm enaknta di apain ya tt iblis tt, dibakar? Kurang deh haa dilindas aja pake tronton? Seru tt 😉
    omo2 jadi jaebum tt mau jadi pahlawan jiyeon lagi hahahah mau kembali jadi posisi satu ya di hati jiyeon? Hmm boleh gg ya? #pletak terserah authornya ding.. 😀
    lanjuuutnyaaaa cepetan oen.. 😀

  4. Aiiich soo jung kau bnar”terlalu…. 😡
    next chingu
    gereget q mau bca lanjtan_ny…#emosi tingkat dewa nich#hehe

  5. hoaaaaa!!!!! prok prok prok prok! IM JAE BUM! IM JAE BUM! IM JAE BUM! BANZAAAIIIIIIII !!! hahahahaha… daebak, eonni!

    GANTI MAIN CAST NYA! wkwkwk.. im jae bum! im jae bum! im jae bum!

    • nak..nak..makanya clara cinta..kalo komen ga usah ganti2 namanya..jadi we kudu di moderate heula..

      coba setengah taun lalu bikinnya pasti JB jadi main cast tuhh..
      hahahhahaha..
      sekarang udah overload gara2 namu..aigoooo..

  6. dasar krystal si cewe perusak hubungan orang.
    Aigoo kasian uri jiyeon -_-
    Tenang jiyeon, ga dapet woohyun, minho pun jadi. #loh
    Hehe

    Next partnya jangan lamalama ya thor.

  7. Liciknya krystal.. Buat ngedapetin woohyun oppa
    Aja harus pake cara licik begitu..
    Yeoja yg jahat licik..
    Jaebum nembak jiyeon?? Wooow qra2 apa ya jawabannya
    Jiyeon?? Penasaran nih thor..
    D’tunggu ya chapter selanjutnya..

  8. Aaa Soojung-ssi…. jebal tinggalkan namstar bahagia dgn Jiyeonie.. =.=”

    author… ceritanya daebak, tp awas klo Jiji sama namu ga balikan lagi *ngancem author*

    next chap aku tunggu lho thor. Dan aku baru baca, dan komen disini hahaha *mianhae author *bow
    jgn lama2 yah thor next chapnya 😀

  9. Krystal bener2 menyebalkan….gregetan bgt ma dy…egois bgt…

    Poor jiyeon woohyun…

    Mau lanjut ke next part nya dulu dehh

  10. jiyeon-ah,,
    how lucky are you?
    abis putus malah ditembak namja lain *dijambak Ji*

    author, kenapa kau menyiksa my two precious bias?! wae?

    ini kenapa tiap bca ff Ji, yg evilnya srg bgt kamu sih nak *natap krystal* menjaulah menjauh~ *tebar mantra*

  11. Part ini sedih T_T,kasian mrk berdua. Ooooh,ternyata jb selama ini bersikap dingin krn ngambek jiyeon udh punya pacar,wkwk malah senang pula dia jiyeon udh putus dgn woohyun. Lnjt baca lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s